Angin dan Hujan Dalam Al Qur’an

Bismillahirrahmannirrahim…

Bulan ini adalah bulan Desember, seperti tahun-tahun sebelumnya antara bulan November sampai Januari adalah musim-musim penghujan. Tapi tahukah Anda bagaimana proses turunya hujan di dalam al qur’an ?

“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya”

(QS:an-Nur:43)

“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikan bergumpal-gumpal lalu kamu melihat hujan keluar dari celah-celahnya”

(QS:ar-Rum:48)

Awan adalah udara yang dipenuhi oleh uap air. Pada awal surat ar-Rum, Allah mengirim berbagai angin (angin di sini dalam arti jamak bukan tunggal). Ilmu pengetahuan membuktikan bahwa angin yang menyebabkan turunnya hujan bukan dari satu arah saja, melainkan dari berbagai arah, dan hanya dalam bentuk yang demikianlah yang akan menyebabkan turunya hujan. Angin dalam arti tunggal (rih) maka angin tersebut mengakibatkan kerusakan, kebinasaan, dan azab. Pernyataan tersebut juga dijawab serupa oleh para imam as,

“ketika angin itu satu arah saja, maka itu adalah azab, dan ketika datangnya angin itu dari berbagai arah itu adalah rahmat”

Pada proses pembentukan awan dan angin terjadi sebuah “revolusi” dan gerakan kuat yang besar dan membolak-balik di angkasa. Gerakan angin di sini adalah selalu berputar dan melingkar. Hal tersebut sebelumnya sudah diutarakan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as mengumpamakan angin dengan sebuah burung yang memiliki satu kepala dan berbagai sayap. Kemudian beliau memastikan bahwa gerakan angin adalah sebagai berikut :

Jika seseorang memperhatikan berbagai tempat dan posisi gerakan angin itu, maka ia akan menduga bahwa ada seekor burung raksasa yang tengah berada di atas dunia.

“ dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, “, awan sudah dibentangkan atas kehendakNya dan belum dapat menurunkan hujan, kecuali “dan menjadikan bergumpal-gumpal”,

“kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya “, melalui perantara angin kemudian dikumpulkan berbagai awan yang terpisah-pisah dan berserakan di angkasa. Lalu, “kemudian menjadikannya bertindih-tindih”, awan-awan tersebut kemudian saling bertindih-tindihan antara awan yang satu dengan awan yang lainnya. “maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya”, lalu tetes-tetes hujan keluar dari celah-celah awan tersebut.

Pada peristiwa tersebut, Allah menginginkan agar kita benar-benar memperhatikan berbagai peristiwa alam dan berusaha untuk menyingkap berbagai sebab, rahasia, dan manfaat dari peristiwa tersebut berdasarkan pada pedoman atau sumbernya (al qur’an), karena jauh sebelumnya agama sudah mengungkapkan berbagai hakikat tersebut baru kemudian ilmu pengetahuan mengadakan penelitian tentang masalah yang sudah dijelaskan serta ditegaskan oleh agama demi mendapatkan keyakinan.

“sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang memiliki penglihatan”

Referensi : Muthahhari, Murtadha: Pelajaran-Pelajaran Penting dari Al-Qur’an, Penerbit Lentera

2 responses to this post.

  1. Subhanallah,

    Allah maha besar,Allah-lah yang mengatur segala kejadian alam di dunia ini, kenapa banyak “manusia” yang masih ragu akan kekuasaan-Nya ?

    Balas

  2. Posted by Teguh Prawiro on Mei 20, 2012 at 3:14 am

    شكرا كثيرا يا أخي..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: