Meraih Keutamaan Ramadhan

Hukum shiyam (puasa) adalah wajib karena merupakan salah satu dalam rukun islam.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana yang diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, semoga kamu bertakwa.” [Al Baqarah (2) : 183]

Dari Ibnu Umar ra Bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Islam ditegakkan di atas lima perkara (pertama) bersaksi tiada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan nabi Muhammad adalah utusan Allah, (kedua) menegakkan shalat, (ketiga) mengeluarkan zakat, (keempat) menunaikan ibadah haji, dan (kelima) berpuasa di bulan Ramadhan.”

Keutamaan Puasa Ramadhan

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala di sisi Allah SWT, niscaya diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu.”

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Allah SWT berfirman, setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Maka sesungguhnya ia untukKu dan Akulah yang akan membalasnya, “Shiyam” (puasa) adalah tameng, oleh karena itu, bila seseorang diantara kamu berpuasa, janganlah ia berkata kotor, jangan berteriak dan jangan(pula) bersikap dengan sikapnya orang-orang jahil, jika ia dicela atau disakiti oleh orang lain, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa” (dua kali). Demi Dzat yang diri Muhammad berada digenggamanNya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah pada hari kiamat (kelak) jauh lebih harum daripada semerbaknya minyak kesturi. Di samping itu, orang yang berpuasa memilki dua kegembiraan yang dirasakan: apabila ia berbuka maka ia merasa gembira dengan buka puasanya, dan apabila berjumpa dengan Rabbnya, maka ia berbahagia dengan (pahala) puasanya.”

Dari Sahl bin Sa’ad ra bahwa nabi SAW besabda :

“Sejatinya di dalam Surga terdapat satu pintu yang disebut Rayyan, pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut, tak seorangpun selain mereka yang boleh masuk darinya. Dikatakan kepada mereka, “Di mana orang-orang yang (rajin) berpuasa ?” Maka segera mereka berdiri (untuk masuk darinya),  tak seorangpun(selain mereka) yang masuk darinya.”

Kewajiban Berpuasa Ramadhan dengan Melihat Hilal

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :

“Berpuasalah kamu bila sudah melihat hilal (bulan Ramadhan) dan berbukalah kamu bila sudah melihat hilal (bulan Syawal); jika mendung atas kalian, maka genapkanlah bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari !”

Cara Menetapkan Awal Bulan Ramadhan

Yaitu ditetapkan dengan melihat hilal, tanggal satu bulan Ramadhan walaupun hanya bersumber dari satu orang laki-laki yang adil, terpercaya atau dengan menyempurnakan bilangan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.

Dari Ibnu Umar ra, ia berkata:

“Orang-orang pada memperhatikan hilal (bulan Ramadhan), lalu saya informasikan kepada Rasulullah SAW, bahwa sesungguhnya saya telah melihatnya. Maka beliau berpuasa dan memerintah segenap agar berpuasa.”

Adapun penetapan hilal bulan Syawal, maka tidak boleh ditetapkan adanya, kecuali dengan dua orang laki-laki yang adil.

Dari Guberbur Mekkah, al-harits bin Hathib, ia bertutur :

“Rasulullah SAW mengamanatkan kepada kami agar kami melaksanakan ibadah puasa ini bila sudah melihat hilal (bulan Ramadhan); jika kami tidak melihatnya, namu ada dua orang laki-laki yang adil yang menyaksikan(nya), maka kami harus melaksanakan ibadah puasa ini dengan kesaksian mereka berdua !”.

Barangsiapa yang melihat hilal satu Ramadhan atau Syawal, sendirian, maka ia tidak dibolehkan berpuasa sebelum masyarakat berpuasa dan tidak pula berbuka hingga masyarakat berbuka.

Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda :

“Puasa adalah pada hari kamu sekalian berpuasa, berbuka (idul Fitri) adalah pada hari kamu sekalian berbuka, dan hari qurban adalah hari kamu sekalian menyembelih binatang Qurban”.

Imam Tirmidzi berkata,

“Sebagian ulama menafsiri hadits ini ialah berpuasa dan berbuka harus bersama dengan mayoritas muslimin masyarakat.”

Orang yang Wajib Melaksanakan Shiyam(Puasa)

Para ulama sepakat bahwa shiyam, puasa wajib dilaksanakan oleh orang muslim, yang berakal sehat, baligh, sehat, dan muqim (tidak sedang berpergian) dan untuk perempuan harus dalam keadaan suci dari darah haidh dan nifas.

Tidak wajib bagi orang yang tidak sehat, tapi muqim [Al Baqarah: 184].

Namun jika orang yang sakit dan yang musafir itu tetap berpuasa, maka puasanya mencukupi keduanya.

Lebih afdhal bagi orang yang sakit dan yang musafir tidak mendapat kesulitan yang berarti, sebaliknya jika mereka berdua menghadapi kesulitan dan kepayahan yang sangat, maka berbuka lebih afdhal. (Shahih Tirmidzi II : 787 no. 96 dan 1116 dan Tirmidzi II : 108 no. 708)

Tidak wajib berpuasa bagi wanita haidh dan nifash. (Mukhtashar Bukhari no. 951 dan Fathul Bari IV : 191 no. 1951).

Jika tetap melaksanakannya maka tidak cukup dan tidak berguna bagi mereka, tetapi wajib mengqadhanya (menggantinya di hari lain  di bulan lain). (Shahih Tirmidzi no. 630, Muslim I : 265 no. 335, ‘Aunul Ma’bud 1444 no. 259-260, Tirmidzi II:141 no. 784 dan Nasa’i IV : 191).

Orang yang tidak mampu lagi berpuasa karena usianya sudah lanjut (kakek-nenek), atau karena yang semisalnya serta orang yang sakit menahun yang tidak diharapkan kesembuhannya. Maka harus berbuka dengan syarat ia harus memberi makan setiap hari satu orang miskin. (lihat QS. Al Baqarah(2) : 184, Shahih Irwaul Gahlil no. 912 dan Fathul bari VIII: 179 no. 4505).

Wanita yang Hamil dan yang Menyusui

Jika merasa berat melaksanakan ibadah puasa, atau keduanya merasa khawatir menggangu kesehatan bayinya, bila tetap berpuasa, maka keduanya boleh berbuka, maka keduanya boleh berbuka dengan mengemban kewajiban membayar fidyah dan tidak ada kewajiban mengqadha’ bagi mereka. (Baihaqi IV:230)

Sumber : Abu Fatiyah, Buletin Dakwah No. 36 Thn, XXXV.

One response to this post.

  1. terima kasih sharing info/ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Benarkah Kita Hamba Allah?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/09/benarkah-kita-hamba-allah-1-of-2.html
    (link di atas adalah tulisan ke-1 dr 2 buah link benarkah kita hamba Allah?)

    Apakah Allah juga mengakui bahwa kita adalah hamba-Nya?

    semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: